Suatu ketika dalam diskusi berdua ala “Master Mind” dengan senior yang secara tak langsung saya banyak belajar darinya, ada satu kalimat yang mengingatkan saya tentang kepemimpinan yang diulas oleh Simon Sinek dalam buku “Leaders Eat Last” .. Sang senior ini dalam percakapan kami berdua sempat bilang begini , “Dalam keadaan survival mode, yang penting bagi gua adalah anak-anak (baca : tim) bisa gajian tepat waktu.. Buat gua sendiri gak masalah, di posisi lebih parah dari ini pun sudah pernah”.. Saya pun tertegun sejenak .. Ingat pesan mantan bos di tahun 2005 dulu ketika masih bekerja di sebuah perusahaan logitsik. Beliau saat itu Managing Director sekaligus Direktur Operasional. Dalam situasi yang sama berdiskusi dua pasang mata, beliau berpesan kalau you suatu saat ada di posisi saya, jadilah atasan yang baik. Atasan yang baik adalah atasan yang bisa menjadi bawahan yang baik bagi bawahannya .. Oohh dalam buat saya…..
Dalam buku “Leaders Eat Last: Why Some Teams Pull Together and Others Don’t”, Simon Sinek membawa pembaca ke dalam sebuah eksplorasi mendalam tentang kepemimpinan sejati dan mengapa beberapa organisasi berhasil menciptakan budaya yang kuat, saling percaya, dan kolaboratif, sementara yang lain gagal. Judul buku ini terinspirasi dari kisah nyata Korps Marinir Amerika Serikat, di mana para pemimpin ( tidak peduli pangkatnya) selalu makan paling terakhir, memastikan semua prajuritnya sudah makan terlebih dahulu. Bagi Sinek, ini bukan sekadar tradisi, melainkan metafora kuat untuk esensi kepemimpinan: seorang pemimpin yang baik mengorbankan kepentingannya sendiri demi kesejahteraan timnya.
Sinek berargumen bahwa lingkungan kerja yang aman dan saling mendukung (yang ia sebut “Lingkaran Keamanan” atau Circle of Safety) adalah kunci utama untuk mencapai performa tinggi dan inovasi. Ketika para karyawan merasa aman dari ancaman internal (seperti politik kantor, persaingan tidak sehat, dan kritik berlebihan dari atasan), mereka akan lebih berani untuk mengambil risiko, berinovasi, dan bekerja sama dengan maksimal. Lingkaran Keamanan ini diciptakan oleh para pemimpin yang bertanggung jawab dan berempati, yang melihat tim mereka bukan sebagai alat untuk mencapai tujuan, melainkan sebagai aset paling berharga yang harus dilindungi.
Buku ini juga membahas bagaimana biologi manusia memainkan peran penting dalam dinamika tim. Sinek menjelaskan empat hormon utama yang memengaruhi perilaku kita di tempat kerja:
Endorfin & Dopamin: Hormon-hormon yang memicu perasaan senang dan kepuasan, mendorong kita untuk mencapai target jangka pendek (seperti menyelesaikan tugas atau mendapatkan bonus). Namun, Sinek memperingatkan agar tidak terlalu bergantung pada hormon-hormon ini karena dapat memicu kecanduan dan perilaku egois.
Oksitosin & Serotonin: Hormon-hormon yang mendorong ikatan sosial, kepercayaan, dan perasaan bangga. Oksitosin, sering disebut “hormon cinta”, muncul saat kita berinteraksi positif dengan orang lain. Serotonin, yang memunculkan perasaan bangga, dilepaskan ketika kita merasa diakui dan dihargai oleh kelompok. Sinek menekankan bahwa pemimpin harus fokus membangun budaya yang memicu pelepasan oksitosin dan serotonin, karena inilah yang membangun loyalitas, kolaborasi, dan rasa memiliki jangka panjang.
Sinek mengkritik praktik manajemen modern yang terlalu fokus pada angka, profit, dan target jangka pendek, yang sering kali mengabaikan faktor manusia. Ia menunjukkan bagaimana kebijakan seperti PHK massal untuk meningkatkan harga saham, bonus berdasarkan performa individu yang agresif, dan micromanagement telah merusak Lingkaran Keamanan. Hal-hal ini menciptakan lingkungan yang penuh ketakutan dan ketidakpercayaan, di mana setiap orang harus berjuang untuk dirinya sendiri, sehingga menghambat kolaborasi dan inovasi.
Di akhir buku, Sinek memberikan panduan praktis tentang bagaimana para pemimpin dapat membangun kembali Lingkaran Keamanan. Kuncinya adalah menjadi pemimpin yang berempati, bertanggung jawab, dan autentik. Pemimpin harus mau menginvestasikan waktu dan energi untuk mengenal timnya, mendengarkan mereka, dan membuat keputusan yang terbaik untuk kesejahteraan kolektif. Kepemimpinan sejati, menurut Sinek, bukan tentang kekuasaan atau status, melainkan tentang tanggung jawab untuk menginspirasi orang lain agar bisa mencapai hal-hal luar biasa.
“Leaders Eat Last” adalah bacaan wajib bagi siapa pun yang ingin memahami esensi kepemimpinan yang efektif dan membangun organisasi yang tidak hanya sukses secara finansial, tetapi juga memiliki budaya yang kuat, etis, dan manusiawi. Buku ini mengajarkan bahwa kepemimpinan adalah sebuah hak istimewa untuk melayani dan melindungi orang-orang di sekitar kita, karena pada akhirnya, kebahagiaan dan keamanan tim adalah fondasi dari setiap kesuksesan yang berkelanjutan.


Leave a Reply